Oke, aku terima kalau kamu memang lebih milih ninggalin aku dan memulai hidup baru dengan pria sempurna itu.
tapi sebelum itu, jawab satu pertanyaanku.
Apa yang akan kamu jawab, ketika anak kalian bertanya dengan wajah polosnya : Gimana sih ceritanya mama sama papa bisa sama-sama??
Apa kamu akan menjawab kalau kalian membangun semuanya, dari rasa sakit hati orang lain? Rasa sakit hatiku? Keberkahan macam apa yang akan kamu harapkan dari semua ini?
Seribu kali aku yakin, akan ada kebohongan lainya.
Maaf, terima kasih dan Selamat menempuh hidup baru :)
Inikah tujuanmu?
mengacak hati, memberantakan harapan.
puaskah dirimu, setelah aku hancur kau tinggalkan?
Ah, persetan dengan itu semua.
Yang penting aku sayang.
Aku tidak pernah menyangka kamu pintar memainkan pisau.
Menyayat sakit, melepas luka pada kepakan harapan kecil kita.
Mengapa tak kau katakan, apa yang kau mau lakukan?
Jujur padaku, itu lebih bijaksana bukan?
Lihat sekarang.
Lihat sekelilingmu.
Lihat serpihan-serpihan asa yang kau tabur terbang bersama angin.
Lihat juga wajah-wajah penuh kecewa itu.
Kami rindu dengan kamu yang dulu.
Yang gagap memegang pisau. Yang mengharamkan luka sekecil apa.
Yang memelihara harapan seakan-akan itu bisa mengkiamatkan kita semua jika terlepas.
Kami tahu. Luka ini pasti akan sembuh.
Kami tak peduli sebesar apa bekasnya. Atau semahal apa biaya menyembuhkannya.
Kami hanya ingin kau mati. Dan kembali lahir bukan sebagai algojo hati.
Kami ingin kau kembali dari kematian akal. Dari hobi barumu menoreh tangis.
Kami rindu. Kamu menunggu. Apa kau tahu?